Ketika Al-Quran Mempertemukan Kita

Bedug subuh mulai terdengar di telinga Arini yang sedang melaksanakan ibadah sholat Tahajjud. Beberapa detik kemudian terdengar suara adzan yang kian lama kian bersahut-sahutan. Arini bergegas ke masjid di ponpesnya bersama Aisyah untuk melaksakan sholat subuh berjamaah. Selesai sholat Arini dipanggil oleh ibu Aminah selaku guru mengaji Al-Qur’annya. “Asalamualaikum, Arini !!.”panggil Bu Ustazah Aminah. “Waalaikumsalam,bu ustazah,,”sambil bersalaman. “Maaf ada apa bu?” Tanya Arini. “Begini, Nak, besok ada perlombaan SBQ (Seni Baca Al-Qur’an) di pondok pesantren Al-Falah kamu siap kan, Nak?” Tanya bu Aminah.“Insya Allah saya siap bu.”Jawab Arini. “Baiklah kalau begitu, kamu persiapkan ya Nak dan jaga kesehatanmu. ”Nasihat Bu Aminah. “Iya Bu Ustazah,”Jawab Arini.

Sinar matahari mulai merambat ke dinding bangunan pondok pesantren Al-Hikmah dari ufuk timur. Sedikit demi sedikit sinar hangatnya menyinari kamar Arini melalui celah-celah jendela yang sedikit terbuka. Arini sedang sibuk mempersiapkan diri untuk lomba di Ponpes Al-Falah dan dibantu oleh Aisyah. “Aisyah, Apakah kamu tahu dimana Al-Qur’an ku?”Tanya Arini sambil mencari-cari Al-Qur’an miliknya.

“ Al-Qur’an yang mana Arini?”Jawab Aisyah. “Al-Qur’an yang biasa kupakai mengaji itu lho.”Jawab Arini menjelaskan.“Aku tidak melihatnya sama sekali Arini, mungkin ada di atas laci.”Jawab Aisyah yang sedang membereskan kamar mereka. “Tidak ada Aisyah.”Jawab Arini yang mulai panik.

“Ya sudah kalau tidak ketemu, pakai saja Al-Qur’an milikku Arini, kan juga sama saja.”Jawab Aisyah menawarkan. “Tidak, Aisyah aku harus menemukan Al-Quran itu, karena itu sangat berharga bagiku,”Jawab Arini yang semakin panik. “Ayo, Arini sebentarlagi kitaberangkat, lihatmobilnyasudahdatang.”Ajak Aisyah. “sebentar Aisyah.”Jawab Arini.“Alhamdilillah, akhirnya ketemu.”Mengambil Al-Qur’annya dan berlari menyusul Aisyah.

Perlahan-lahan mobil yang membawa Arini dan Aisyah melaju meninggalkan ponpes Al-Hikmah menuju ponpes Al-Falah. Lima menit kemudian mobi litu telah sampai di tempat tujuan. Dengan mengucap basmalah, perlahan-lahan mereka turun dari kendaraan dan dengan langkah pasti Arini dan Aisyah masukke Aula ponpes Al-Falah. Dengan nuansa khas jawa dan islami aula itu dihiasi dengan warna-warna yang sangat indah. “Subhanallah, indahsekali aula ini. ”Ucap Arini dalam hati ketika mulai menjejakkan kaki kedalam aula.Aisyah melongo dan diam sejenak di tempat ketika masuk ke aula bersama Arini. “Subhanallah, Arini bagus  sekali. ”Ucap Aisyah yang masih terpaku di tempat,sambil memandangi setiap sudut di aula tersebut. “Bagus ya Arini, kalau menurutmu bagaimana?” UcapAisyah. “Arini?” (Menoleh ke arah tempat Arini tadi). “Lhoh, (kaget) Arini, kamu di mana?” (berlalu dari tempat itu dan mencari Arini).

Aisyah berjalan setengah berlari menghampiri Arini yang sedang mengambil nomor peserta dan mengambil tempat duduk yang disediakan beserta para peserta lomba lainnya. Sambutan demi sambutan sudah terlewati, kini lomba seakan sudah berada di depan mata.Satu persatu perserta dipanggil sesuai nomor urut dan naik ke atas panggung untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan nada dan suara merdu mereka masing-masing. Jam di pergelangan tangan Arini menunjukan sudah 30 menit Arini dan Aisyah menunggu. “Beri tepuk tangan yang meriah untuk peserta lomba nomor urut 77 atas nama Fahmi perwakilan dari ponpes Al-Falah,” ucap dari panitia. Prok…prokk..prokk…. ketika melihat fahmi Arini teringat peristiwa sebelum mengambil nomor urut tadi.

BRUUGGHH…….,” Astagfurullah….”Ucap Arini kaget. “Maaf, saya tidak melihat, mari saya bantu,”ucap Lelak itu kemudian membantu Arini berdiri. Arini hanya diam dan tanpa mereka sadari, mereka saling berpandangan .Sampai akhirnya suara Aisyah dating dan menyadarkan mereka. “Arini, kau tidak apa-apa?” Tanya Aisyah yang menghampiri Arini, ”Ayo cepat kita sudah ditunggu,” Ajak Aisyah.Tanpa menjawab Arini mengambil AlQur’annya dan bergegas pergi bersama Aisyah. “Peserta yang terakhir dengan nomor urut 78 atas nama Arini Bintan Muslikha perwakilan dari ponpes Al-Hikmah,” panggil panitia kepada Arini.

Dag,Dig,Dug……. Jantung Arini ketika mendengar panitia sudah memanggilnya. Dengan membawa Al-Qur’an kesayangannya Arini melangkah dengan pasti dan memantapkan langkah ia berusaha mengatur napasnya agar tidak deg-degan. Dar iatas panggung terlihat dari kejauhan sosok pemuda tadi, yaitu Fahmi sedang memandang Arini yang akan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara merdu dan irama yang indah .“A`ūdzubillūhi minas- syaitūnir-rajūmi…Bismillahirrahmanirrahim…” Arinimemulaikiro’atnya.”

Selesai sholat subuh .”jemari Arini perlahan  membuka Al-Qur’an miliknya, kata demi  kata dalam Al-Qur’an ia baca dengan suara  yang jelas dan indah. Tidak terasa sudah 10 halaman yang ia baca. Arini terkejut melihat secarik kertas yang berisikan kata-kata,“Di sepertiga malam terakhir aku merenungi apa yang ku lakukan hari ini, berapa orang yang kukecewakan dan berapa orang yang terluka karenaku.”

Arini bingung mengapa ada kertas di Al-Qur’an miliknya itu, dalam hari Arini mulai muncul berbagai pertanyaan yang entah siapa yang akan menjawabnya. Arini mencoba membolak balik kertas itu dan ternyata tidak ada keterangan sedikitnpun untuk mengetahui siapa yang menaruh kertas bertuliskan itu di Al-Qur’an miliknya. Ia mengira mungkin Aisyah yang menaruh itu , kemudian ia meneruskan membaca Al-Qur’an nya, pada halaman terakhir Arini kembali mendapati catatan di sampul Al-Qur’an tersebut yang bertuliskan nama seseorang dan nama pondok pesantren, nama yang tidak asing lagi bagi seorang Arini. Nama itu adalah Fahmi dari pondok pesantren Al-Falah. Arini terkejud dan teringat oleh pemuda yang tidak sengaja bertabrakan dengannya tadi. Sekarang dia mulai sadar bahwa Al-Qur’an itu bukan miliknya melainkan milik Fahmi. Arini langsung mengakhiri membaca Al-Qur’an dan bergegas memberitahu Aisyah.“ Aisyah,, Aisyah.!” Panggil Arini. “Ada apa Arini?” jawab Aisyah sambil membalik tempe yang sedang ia goreng. “Aisyah, Al-Qur’an milikku tertukar.” Dengan wajah bersedih arini menjawab. “Bagaimana bisa Arini.?” Tanya Aisyah.“Iya Aisyah, ceritannya panjang sekali Aisyah. Bagaimana ini Aisyah, Al-Qur’an itu adalahpemberian dari kakekku yang ada di Saudi Arabiah. Bagaimana caraku menukarnya kembali sedangkan aku dan dia tidak pernah bertemu, kenal saja tidak.”dengan wajah bersedih Arini menjelaskan. “Bagaimana jika kita datang ke pesantren nya saja?” saran Aisyah. “Apakah kamu benar-benar yakin Aisyah?” tanya Arini.

“Cuma itu jalan satu-satunya Arini…” jawab Aisyah. “Baiklah kita kesanabesok pagi. Kamu mau kan menemaniku kesana Aisyah?”ajak Arini. “Okee,, siiap Arini.” Jawab Aisyah dengan senyum yang sangat tulus.Di dalam kamarnya Arini memegangi Al-Qur’an itu dan masih membolak balik helai demi helai halamannya untuk mencari bukti lebih lanjut kalau itumemang bukan Al-Qur’an miliknya. Namun usaha Arini tidakmembuahkan hasil sama sekali. Jarum Jam wecker di atas meja Arini sudah menunjukan pukul 23.17, Arini memebanting tubuhnya di atas kasur mininya, tak lama kemudian setelah membaca do’a Arini berlayar di pulau kapuk dengan sangat pulas. Kokok ayam jantan sayup sayup membangunkan Arini. Ia menengok jam wecker nya menujukkan sudah pukul 04.00 pagi, Arini bergegas bangun dan menganbil Air wudu untuk sholat subuh. “Aisyah, apakah kamu sudah siap untuk menemaniku ke pondok pesantren Al-Falah?” tanya Arini dengan penuh semangat. “Sudah Arini, ayo kita berangkat.” Jawab arini dengan bersemangat pula. “Tapi kita harus meminta izin kepada bu ustazah Aminah dulu.” Saran Arini. “Okkee,, siiap.., ayo kita berangkat.” Jawab Aisyah. Tok,,,tok,,,tok,,, “ Asalamualaikum,, bu ustazah,,,” salam Arini dan Aisyah. “Waalaikum salam, ohh nak Arini dan nak Aisyah,, mari silahkan masuk nak.” Jawab bu ustazah. “Iya bu..” jawab Arini dan Aisyah. “Silahkan duduk nak.” Ucap bu Aminah. “Iya bu, maaf bu kedatangan kami kemari ingin …. “ sebelum Arini menyelesaikan ucapanya terdengar suara salam dari seseorang.

“Asalamualaikum…”
“Waalaikum salam.” Jawab Bu Aminah Sesosok pemuda itudipersilahkan masuk ke dalam oleh bu Aminah, ia duduk tepat di depan Arini. Wajah pemuda itu sedikit tidak asing bagi Arini, sepertinya Arini pernah melihat paras itu. “maaf bu, saya Fahmi dari pondok pesantren Al-Falah . kedatangan saya kemari ingin menemui santri di pondok pesantren ini yang bernama Arini Bintan Muslikha. Apakah boleh ustazah?” ucap Fahmi menjelaskan maksud kedatangannya. “memangya ada keperluan apa?” tanya ustazah Aminah. “ maaf bu saya ingin menukar Al-Qur’an ini dengan milik saya, Al-Qur’an kami tertukar saat acara lomba kemarin ustazah.” Jelas fahmi. “Oh, kebetulan sekali orang yang nak Fahmi cari, sekarang ada di sini.” Ucap ustazah Aminah. “Iya Ustazah.” Jawab Fahmi. “Arini, maaf , apakah ini Al-Qur’an milikmu?” tanya Fahmi kepada Arini. “Iya memang benar itu Al-Qur’an milik saya. Apakah ini juga Al-Qur’an milikmu,” jawab Arini sambil menyodorkan Al-Qur’an yang ia bawa. “iya Arini.” Jawab Fahmi singkat.

Mereka saling menukar Al-Qur’an. Kemudian Fahmi berpamitan untuk pulang.Kini mereka berdua sering bertemu dan seiring berjalanya waktu Rupanya di antara Fahmi dan Arini ada sebuah benih benih cinta. Ada banyak sekali kegiatan yang sering mempertemukan mereka. Seiring berjalanya waktu mereka semakin dekat. Suatu ketika Fahmi mengajak Arini ke suatu tempat yang sangat diimpikan Arini sejak lama, yaitu PUNCAK Gunung BROMO.
“Subhanaallah,,, Fahmi ini sangat indah…” Arini kagung ketoka melihat pemandangan dari puncak gunung Bromo.
“Iya Arini..” sambil tersenyum fahmi menjawab

Keesokan harinya..
Arini sedang duduk di taman pinggir kota. Dari kejauhan terlihat sosok Fahmi yang sedang memanggil-manggil Arini dengan penuh semangat.Arini hanya tersenyum lebar . Fahmi berlari menyeberangi jalan dan BRAAAKKK!!!
“Fahmiiiii”, teriak Arini sambil berlari menuju Fahmi.
(Jana, XB1)

Kerja kerja kerja