Pengukuran, Penilaian, Tes, dan Evaluasi Dalam Pendidikan

Pengukuran (measurement) dalam pendidikan proses pemberian angka atau bentuk kuantitatif pada objek-objek atau kejadian-kejadian menurut sesuatu aturan yang ditetapkan. Artinya, dalam memberiangka atau sekor pada subjek, objek atau kejadian harus menggunakan aturan-aturan atau formula yang jelas dan sudah disepakati bersama.
Karakteristik utama dalam proses pengukuran adalah adanya penggunaan angka (skor). Skala atau angka dalam pengukuran dapat diklasifikasikan kedalam 4 (empat) kategori, yaitu: skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala rasio.
  • Skala nominal adalah skala yang bersifat kategorikal, jenis datanya hanya menunjukkan perbedaan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya, misalnya, jenis kelamin, golongan, organisasi, dan sebagainya.
  • Skala ordinal adalah skala yang menunjukkan adanya urutan atau jenjang tanpa mempersoalkan jarak antar urutan tersebut. Misalnya, prestasi peserta didik ranking 1, 2 dan 3.
  • Skala interval adalah skala yang menunjukkan adanya jarak yang sama dari angka yang berurutan dari yang terendah ke tertinggi dan tidak memiliki harga nol mutlak, artinya harga 0 yang dikenakan terhadap sesuatu obyek menunjukkan bahwa nilai atau harga 0 tersebut ada (dapat diamati keberadaannya). Contoh Selisih jarak antara 1 meter dan 2 meter adalah sama dengan selisih jarak antara 3 meter dan 4 meter, dan seterusnya.
  • Skala rasio pada dasarnya sama dengan skala interval, bedanya skala rasio memiliki harga nol mutlak, artinya harga 0 tidak menunjukkan ukuran sesuatu (tidak ada). Misalnya, tinggi badan A 100 cm, tidak ada tinggi badan yang 0 cm.
Penilaian (assessment)/evaluasi (evaluation) merupakan penggunaan berbagai macam teknik untuk mengumpulkan data yang digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan berkaitan dengan tingkat kemajuan belajar dan hasil pembelajaran.
Secara garis besar, penilaian dapat dibagi menjadi dua, yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian yang bersifat formatif dilakukan dengan maksud untuk mengetahui sejauhmanakah suatu proses pembelajaran berlangsung sudah sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah direncanakan. Penilaian yang bersifat sumatif dilakukan untuk mengetahui sejauhmanakah peserta didik telah menguasai materi ajar dalam periode waktu tertentu sehingga peserta didik dapat melanjutkan atau pindah ke unit pembelajaran berikutnya.
Dalam melaksanakan kegiatan pelaksanaan penilaian hasil belajar peserta didik perlu diperhatikan kaidah-kaidah penilaian yang baik dan tepat.Untuk itu, penilaian hasil belajar harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: obyektip, terpadu, sistematis, terbuka, akuntabel, menyeluruh dan berkesinambungan, adil, valid, andal, dan manfaat.
Untuk dapat melaksanakan pengukuran diperlukan alat untuk mengukur yaitu tes. Tes adalah sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang memiliki jawaban yang benar.  Secara umum tes dapat dipilahkan kedalam bentuk tes penampilan atau unjuk kerja (performance test), tes lisan, dan tes tulis. Dalam pendidikan dan pembelajaran tes memiliki banyak fungsi di antaranya fungsi untuk pengelolaan kelas, fungsi untuk program bimbingan, dan fungsi untuk administrasi.
Evaluasi merupakan kegiatan untuk menentukan mutu atau nilai suatu program yang di dalamnya ada unsur pembuatan keputusan. Dari evaluasi akan diketahui tingkat keberhasilan belajar siswa dan tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran. Evaluasi hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Secara rinci tujuan evaluasi program pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Memutuskan seberapa jauh tujuan programberhasil dicapai.
2) Menyimpulkan tepat tidaknya program yang dilaksanakan.
3) Mengetahui besarnya biaya yang digunakan untuk pelaksanaan program.
4) Mengetahui kekuatan dan kelemahan pelaksanaan program pembelajaran.
5) Mengindentifikasi pihak-pihak yang memperoleh manfaat, baik maksimum maupun minimum.
6) Merumuskan kebijakan berkaitan dengan siapa yang harus terlibat pada program berikutnya.